Langsung ke konten utama

Postingan

Menikmati Penglipuran

                Hari belum juga jam 8 pagi, tetapi Bali waktu itu sungguh panas. Kami yang sedari tengah malam sudah sampai dan memutuskan untuk menginap di bandara sampai pagi ini sedikit kewalahan dengan cuaca Bali saat itu. Belum lagi perjalanan dari bandara menuju Bangli tidak cukup dibilang singkat, hampir 2 jam lamanya ditambah beberapa kali salah jalan. Kami berdua buta jalan. Hanya berbekal GPS di smartphone yang jaringannya tak stabil ini, kami menuju Bangli dengan sesekali tanya arah ke penduduk sekitar. Beruntung nya karena masyarakat Bali cukup ramah untuk sekedar menunjukkan arah. Agak tidak terbiasa karena mereka lebih banyak menggunakan arah mata angin ketika menunjukkan arah seperti "ke utara, ke selatan" dibanding kami yang terbiasa dengan "belok kanan,ke kiri,lurus".            Tujuan kami di hari pertama adalah Desa Penglipuran di K...

Prau: The Unexpected

Sebenernya perjalanan ini merupakan “unexpected one”. Bukan karena tempat nya, melainkan situasi dan kondisinya. Oke, lupakan sejenak mengenai itu, akan ada penjelasannya nanti. Prau, pegunungan di kawasan Dieng ini memiliki ketinggian tak seberapa dibandingkan gunung yang lain di Jawa, gunung ini mempunyai tinggi 2565 MDPL.  Pada long weekend bulan Maret lalu, aku dan beberapa teman dari Jakarta berkesempatan untuk mengunjungi gunung ini. Sudah sejak lama, aku punya keinginan untuk ke tempat ini. Kalau dari hasil browsing, hal pertama yang membuatku tertarik adalah sabananya. At least, dari beberapa blog yang aku baca, gunung ini mempunyai sabana yang luar biasa. I have no doubt of it! Singkat cerita, kami bertujuh memulai perjalanan ini dari tempat pos pendaftaran pendakian sekitar jam 8 malam. Agak terlambat berjam-jam an dari jadwal yang telah dibuat. Kami berencana trekking pagi waktu itu tapi ternyata teman-teman yang dari Jakarta kena macet berjam-jam lamanya...

Tentang Perjalanan

"kalau pun saat itu aku tidak pernah memutuskan untuk berjalan lebih jauh dari yang aku bisa, mungkin aku tak pernah tahu ada tempat seindah ini di negeriku sendiri" I am so in love with traveling!! Itu yang aku rasa meski gak ada waktu kadang karena aku karyawan 6 hari kerja, meski hanya pergi 1 bulan sekali, meski belum bisa ke luar negeri dan meski-meski yang lain. Traveling itu sarana belajar buatku pribadi, kayak buku. Bukan dari banyaknya jarak yang ditempuh,tapi bagaimana dan apa yang bisa kita peroleh. Buatku, pergi ke kedai kopi dekat rumah pun bisa jadi jalan-jalan yang asyik, ketemu orang baru misalnya. Kalau bisa lebih jauh dari sekedar tempat ngopi dekat rumah itu berarti anugrah. Berjalan lebih jauh membuat kita seperti menemukan dunia baru, pengalaman baru, pembelajaran, pengetahuan dan penemuan. “jadi, selamat Irma..akhirnya selesai juga..rencana nya abis ini mau ngapain” “mau..hmm..mau backpackeran Pak” (lirih dan ragu) Aku masih in...

Si Cantik Parahyangan Bernama Papandayan

Perjalanan menuju gunung Papandayan, saya awali dari kota Garut yang berjarak sekitar 6 jam dari kota dimana saya tinggal. Saya dan beberapa teman dari Jakarta memutuskan untuk bertemu di Masjid Tarogong Garut sekalian mereka melaksanakan shalat Shubuh. Waktu menunjukkan pukul ½ 5 saat kami memulai perjalanan menuju pasar Cisurupan, tempat dimana kami akan berbelanja logistik untuk kami bawa. Sembari menyiapkan logistik, kami pun sarapan di tempat ini sebelum berangkat menuju base camp Gunung Papandayan. Sekitar lewat jam 7 kami berangkat menuju base camp. Membutuhkan waktu sekitar 1 ½ jam untuk menuju base camp. Kondisi jalan dari Cisurupan menuju base camp boleh dibilang tidak terlalu baik. Selain jalan yang sempit, ada beberapa bagian rusak dan berlubang.   Lewat pukul 8 pagi, kami sampai di base camp . Sebelum memulai tracking , kami tidak lupa untuk melakukan registrasi di pos dan memeriksa kembali barang bawaan kami masing-masing. Tepat pukul 9 pagi, kami memulai tra...

Cerita Dari Baduy

Sempat bertanya ke diri sendiri tentang berapa banyak kah etnis pedalaman yang hidup di Indonesia? Ratusan atau bahkan saya pikir bisa lebih dari itu. Begini saja, Indonesia mempunyai pulau besar saja ada lima, belum lagi ratusan pulau-pulau kecil. Nah, terbayang sudah jumlah masyarakat yang mendiaminya kan? Mengunjungi salah satu etnis yang ada mungkin akan menjadi salah satu pengalaman yang baik. Dua tahun lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu kampung etnis yang ada di pedalaman Banten, Kampung Baduy. Perjalanan saya mulai dari Jakarta bersama beberapa teman dengan menggunakan kereta cepat Rangkas Jaya menuju stasiun Rangkasbitung. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 2 jam, yang berarti jam 10 pagi kami sampai di Rangkas Bitung. Dari stasiun ini kami harus ke Ciboleger, tempat awal trekking kami ke Kampung Baduy. Menuju Ciboleger, kami memutuskan untuk memakai elf. Dari stasiun Rangkasbitung menuju Ciboleger memakan waktu 1 sampai 1,5 jam perjalanan. K...

"Traveling without moving" ala Kedai Kopi Mata Angin

Kedai Kopi Mata Angin yang berada di jalan Laswi no.19A Bandung ini akan mengajak Anda berpetualang ke banyak tempat indah di dunia. Siang itu Teh Uta dengan ramah mempersilahkan masuk ke kedai, padahal saat itu dia bahkan belum membukanya. “tadi aku liat kok di depan ada cewe bawa-bawa keril,kupikir pasti mau masuk kesini jadi ya dibuka aja” sapa Teh Uta “iya nie Teh, kupikir jam segini udah buka Teh tapi pas nyampe di depan..eh ternyata masih tutup. Mau nekad masuk, gak berani Teh” jawabku santai. “iya sie emang harusnya udah buka jam segini mah, cuma lagi gak ada pegawai..biasa, pada gak masuk. Lagi pada jenuh mungkin” tambah nya “oo..gitu” “eh..irma. ya udah enjoy ya disini..mau ke belakang dulu, maklum pegawai lagi pada gak berangkat jadi ya gitu, double job hehe..eh iya temen-temen mu mana nie atau sendirian” sahut Teh Uta terkekeh “iya Teh..santai aja kok paling bentar lagi temen-temenku sampai” jawabku. Sembari menunggu dua orang teman, saya memilih u...