Langsung ke konten utama

Postingan

Si Mata Biru

Siang itu, cuaca Phnom Penh cukup terik. Kami beranjak meninggalkan homestay menuju agen bus yang berada tepat di  lantai bawah homestay kami. Kami berencana melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh, sesuai perkiraan butuh waktu sekitar 6 jam perjalanan dari Phnom Penh. Kulihat sosoknya melintas menuju bus yang sama, sosok Caucasian. Berkemeja abu-abu dengan kancing paling atas terbuka seadanya, celana coklat selutut, rambut brunette yang sedikit berantakan, bermata biru teduh. Dia melintas dengan ransel besar yang bahkan menutupi sebagian punggungnya, aku ingat betapa berdebunya cover bag yang dia pakai. Mungkin dia sudah terlalu lama menempuh ribuan mil perjalanan, yah mungkin saja. Ah tapi untuk ribuan mil yang dia tempuh, dia cukup terlihat bersih dan..tampan. Dia duduk persis di belakang kursi teman perjalananku, sendirian. Kulihat sesekali dia mengecek ponsel, sesekali juga memejamkan mata, ntah apa yang ada di benak nya..mungkin bosan, seperti yang sebagian ...

Sore Kanchanaburi

Entah ini hari ke berapa dari rangkaian perjalanan kami di negara-negara Indochina. Malam itu kami baru saja sampai di Bangkok, terlalu malam sehinggan kami cukup kewalahan untuk mendapatkan penginapan di Khaosan, belum lagi perjalanan panjang dari Siem Reap membuat tubuh kami kelewat lelah. Untung saja ada satu penginapan yang berhasil kami dapatkan, itu pun dengan tarif yang terbilang tidak murah. Sungguh, Khaosan malam hari layaknya sebuah pesta yang tidak pernah berakhir, sangat riuh dengan dentuman musik yang terlampau keras, lalu lalang para turis sepanjang malam. Malam itu, kami memilih untuk beristirahat saja dibanding larut dalam riuh nya Khaosan, kami lelah. Keesokan harinya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi, tujuan kami adalah Kanchanaburi. Kanchanaburi, sebuah kota kecil yang berada di sebelah barat Bangkok dan bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan. Kami memilih kota ini dari sekian tempat di Thailand untuk menghabiskan beberapa hari sebelum kembal...

Ego

Belum sampai pukul 10 pagi, pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan lanc ar Phnom Penh. Diantara rasa lelah karena semalaman mau tidak mau menginap seadanya di Kuala Lumpur International Airport, kami berjalan diantara penumpang yang turun untuk mengambil bagasi. Aku suka bandara Phnom Penh, di sepanjang koridor terminal kedatangan kita bisa melihat landasan pesawat karena hampir dinding nya merupakan dinding kaca jadi semua aktifitas pesawat bisa kita lihat dengan jelas. Begitu juga ruang tunggu penumpang pun dengan ruang tunggu penumpang karena hanya terpisah oleh dinding kaca, aktifitas penumpang tak luput dari pandangan mata. Phnom Penh, tujuan pertama diantara beberapa negara yang nanti nya akan kami datangi. Cuaca  panas pagi itu tak menyurutkan langkah kaki kami. Kami berjalan keluar setelah sepakat untuk mengganti provider telepon selular dengan nomor lokal, ini kami lakukan untuk menghemat pengeluaran tentunya. Lalu kami berjalan keluar bandara, beberapa...

Kembali

Memutuskan kembali untuk traveling, kali ini cukup lama, tiga minggu itu bukan perkara yang ringan buatku. Beli tiket lalu berangkat. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan saat itu, tapi diantara banyak hal yang musti ditimbang itu, lebih banyak hal yang pada akhirnya membuatku memutuskan untuk tetap pergi dan memilih break dari pekerjaan. Hubungan ku berakhir dengan sangat ngaco dan melelahkan, karir juga berasa stuck banget. Sepertinya semua nampak gak pernah berjalan sesuai harapan. Aku keberatan ini disebut pelarian, aku di kondisi yang sudah gak bisa berkompromi lagi dengan semua hal itu, aku cukup lelah dan aku ingin pergi so I buy a ticket. I need those adrenaline, feeling lost. Hanya dengan ransel 30 liter dan daypack kecil untuk kamera karena aku ingin kali ini seringkas mungkin, aku pergi selama tiga minggu. Take a break. Kami memulai perjalanan dari Phonm Penh, penerbangan pagi dari Kuala Lumpur. kami bertemu Hier hari itu, supir tuk tuk yang mengantar kami me...