Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenal Affandi

Affandi, maestro seni lukis Indonesia lahir di Cirebon. Ayah nya, R. Koesoema merupakan mantri ukur perkebunan gula di Ciledug. Putus dari sekolah menengah di Jakarta, dan mengadakan pameran lukis untuk pertama kalinya tahun 1943. Berkunjung ke museum Affandi yang berada di Kota Yogyakarta ini akan membawa kita kembali menapaki perjalanan hidup sang maestro. Cuaca Jogja siang itu cukup bersahabat, ketika aku memacu sepeda motor menuju museum Affandi. Bangunan museum yang terletak di pinggir jalan ini terlihat paling mencolok diantara bangunan-bangunan yang lain karena bentuk nya terbilang cukup unik. Loket masuk museum persis berada di samping pintu masuk yang tidak terlalu lebar. Suasana asri dan tenang sangat terasa saat memasuki tempat parkir kendaraan, dengan banyaknya pepohonan di tempat ini membuat suasana halaman depan museum cukup adem. Tak menunggu lama, aku bergegas menuju ruangan pertama museum. Museum Affandi sendiri terdiri dari tiga galeri utama yang ...

"Air Suci" Tirta Empul

Menjelang tengah hari, kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Tirta Empul di Tampak Siring. Perjalanan dari Desa Penglipuran membutuhkan waktu tak kurang dari satu jam lamanya. Sepeda motor yang kami kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan menuju Tampak Siring terbilang sudah bagus. Mataku kembali dimanjakan dengan landscape perkampungan-perkampungan di pinggiran Bali yang jauh dari kesan kehidupan kota layaknya yang ada di Kuta Selatan. Anjing-anjing kampung berkeliaran bebas sepanjang jalan, para warga lokal yang dengan asyik nya bercengkerama di halaman rumah yang tidak segan untuk menunjukkan arah dikala kami tersesat, rumah-rumah khas Bali pedesaan, hutan-hutan bambu di kanan kiri jalan, kebun kopi khas Bali pun menemani perjalanan kami menuju Tampak Siring siang itu.  Papan petunjuk menuju Pura Tirta Empul membawa kami menuruni jalan beraspal yang agak curam, kami sampai persis di parkiran kendaraan yang berada di depan loket masuk. Cukup ramai siang itu...

Untitled

Butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya berani untuk menuliskannya.   Ketika kecewa,aku lebih sering   memilih untuk diam. Aku tak pandai dalam hal itu, bagaimana untuk mengatakannya, aku sama sekali gagap.  ******************* Kereta yang akan membawaku ke Jogja terlambat satu jam lamanya. Sedikit cemas karena kami harus cepat-cepat ada di bandara menuju Bali. Beberapa kali aku coba untuk menghubungi nya, tapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya sosok nya samar-samar  terlihat dari kejauhan, berjalan diantara padatnya penumpang yang menuju stasiun Tugu. Sedikit terburu-buru, kami bergegas menuju shelter Trans Jogja yang berada beberapa meter dari stasiun yang untungnya kami tak perlu menunggu lama. Aku cukup lama tak bertemu dengannya, beberapa kali dia memang mengajakku traveling tapi aku terlalu sibuk dengan rencana-rencanaku sendiri. Terakhir bertemu saat kami ke Ranu Kumbolo tahun sebelum nya. Cukup lama, cukup lama untuk menyadari bahwa malam itu...

Kabut Turun di Dlingo

Alarm ku berbunyi tak terlalu lama, karena sesaat kemudian aku dengan cepat berhasil mematikkan nya. Dengan sigap menahan kantuk aku membangunkan Frita yang masih terlelap, pagi itu tepat setelah Shubuh kami berdua berencana untuk pergi ke Dlingo di Imogiri. Sebenarnya bukan ide yang cukup bagus untuk berkendara di tengah cuaca Jogja yang beberapa hari terakhir ini mencapai 18 derajat celcius di pagi hari, namun apa boleh buat tekad kami sudah bulat. Dengan pakaian seadanya yang tergantung di belakang pintu kamar hotel, kami memulai perjalanan pagi itu. Kawasan Malioboro tempat hotel kami menginap pagi itu masih lengang,hanya ada beberapa orang saja yang nampak sibuk bersiap untuk membuka lapak dagangan mereka. Aku suka suasana pagi, dimana jalanan masih lengang belum terlalu sibuk, udara pun masih cukup segar meski pagi itu cuaca dingin seakan merayu untuk memutar balik laju sepeda motor pulang ke hotel saja dan kembali tidur. Tapi sudah separuh jalan, kembali ke hotel bukanla...